Andalan

Welcome

Selamat datang di website. Pertama, isi dari website ini sendiri bukan suatu konten akademik. Hanya menceritakan sisi lain dari dunia kampus. Kedua, tak ada suatu niatan serius untuk pengerjaan pos di halaman ini. Jadi jangan terlalu banyak berharap untuk tau semua cerita. Ketiga dan terakhir, selamat berpetualang.

– Anjay, MA 2015

Iklan

Journey to ONMIPA 2018 (1)

Disclaimer : Ini ONMIPA pertama dan terakhir saya sepanjang masa

Prologue :

Saya mahasiswa Institut Teknologi Berkarya, sekarang telah memasuki tingkat akhir. Karena keisengan saya melihat post-post lama saya yang pernah dibuat sebelumnya, termotivasi untuk membuat post ini. Mengingat pengalaman ini sangat memorable juga dalam perkuliahan. Menceritakan dan mengingatnya kembali akan sangat menyenangkan. Selamat menyimak cerita ini!

Lanjutkan membaca “Journey to ONMIPA 2018 (1)”

Performance Art(?)

Ada apa dengan performance art? Ada apa dengannya? Mengapa tetiba membahas hal ini? Yah, awalnya ini bukanlah tujuan akhir mengapa saya berada di Perguruan Tinggi Negeri bercap gajah ini. Namun tanpa saya sadari, hal ini yang membuat saya bertahan di kehidupan pseudo-gila yang katanya membunuh nyaris mahasiswanya dengan seragam tugas dan rutinitas. Dan Performance Art ini adalah suatu alasan lain mengapa saya memiliki motivasi. Sebenarnya tak bisa dikatakan Performance Art juga, karena saya bukan resmi mahasiswa seni. Tapi apa salahnya? Seni milik semuanya! Lalu mengapa harus Performance Art dibanding berteater atau bernyanyi atau bermusik seperti perihal banyak orang? Lanjutkan membaca “Performance Art(?)”

C(er)ita Lampau (2)

…..berlanjut

Setelah lulus dari SMPN 1 Kota Bogor, saya melanjutkan ke SMAN 1 Bogor dengan menggunakan jalur prestasi lagi. Saat diadakan MOPDB, saya harus mengikuti lomba di luar negeri yang diadakan oleh KPM lagi. Tanpa banyak bercerita, saya mendapat medali emas pada ajang “Asia International Mathematics Olympiad” yang pada aslinya saya juga mengikuti suatu lomba persis sebelum ini namun tidak mendapatkan medali atau penghargaan apapun. Saat kelas 10, tanpa ragu saya mencoba mengikuti seleksi sekolah agar dapat mengikuti OSN lagi. Saat kelas 10 juga saya memiliki sahabat dengan ketertarikan yang sama. Singkat cerita lagi bahwa saya lolos seleksi sekolah dan saya mengikuti seleksi OSK Kota Bogor. Hasil yang didapat tidak sesuai perkiraan : saya peringkat kelima di bidang matematika dan sahabat saya peringkat kedua di bidang yang sama. Awalnya saya sedih karena saya mendengar bahwa hanya tiga orang per mata pelajaran di Kota Bogor yang bisa berangkat ke OSP. Namun Kota Bogor mempertimbangkan lagi sehingga jumlah per mata pelajaran yang dapat diberangkatkan untuk ajang OSP ialah 9 orang. Saya benar-benar senang pada akhirnya saya masih bisa mengikuti OSP lagi. Kesempatan itu tidak akan saya sia-siakan lagi seperti dulu. Karena berbeda dengan saat SMP maupun SD, OSN SMA benar-benar bergengsi dan tidak ada kompetisi nasional yang lebih bergengsi daripada OSN. Sehingga untuk menjadi peserta OSN pun adalah sebuah prestasi luar biasa. Ketika berbagai pelatihan diadakan oleh sekolah, saya mengikutinya dengan sungguh-sungguh dan saya bercerita kepada sahabat saya bahwa saya ingin mencapai jenjang OSN bersamanya dan menjadi medalis. Impian yang terlalu besar, bukan? Kembali ke OSP, ini adalah OSP ketiga saya seumur hidup. Saya melalui OSP ini dengan harapan yang sangat kecil untuk bisa lolos. Karena saya tau bahwa sangat sulit untuk bisa tembus ke OSN.

Satu setengah bulan berlalu, dan pengumuman pun telah keluar. Sialnya saya tidak dapat membuka pengumuman tersebut dikarenakan tidak ada koneksi internet. Namun ada seseorang teman saya yang memberitahu bahwa saya lolos OSN. Seakan tidak percaya, saya mendiamkan hal tersebut sampai saya lihat langsung pengumumannya. Sekitar sore hari, akhirnya saya bisa download file tersebut dari internet. Dan terang saja, saya kaget. Nama saya tertulis di daftar tersebut, seakan benar-benar tidak percaya. Bahkan kakak kelasku yang tahun lalu juga tembus OSN ada di dalam daftar. Benar-benar senang untuk waktu sesaat, tetapi dalam daftar tersebut tidak ada nama sahabat saya. Karena mau bagaimana pun, per sekolah hanya mendapat jatah maksimal 2 orang per mata pelajaran. Di saat itu juga, saya berjanji agar bisa melakukan yang terbaik saat berlaga di OSN nanti.

Tahun itu OSN diselenggarakan di Kota Bandung, ibukota dari provinsi asal saya. Sebelum OSN diselenggarakan, ada pelatihan daerah untuk mempersiapkan OSN ini. Pelatda (pelatihan daerah) diselenggarakan satu minggu persis sebelum ajang akbar berskala nasional itu dilaksanakan. Pelatda Jawa Barat memang menyenangkan dengan pengajar yang kompatibel, namun waktunya sangat kurang. Bukan satu alasan bahwa itu menjadi kendala untuk malas.

Saat OSN berlangsung, terdapat dua hari tes dengan satu hari masing-masing berdurasi empat jam. Satu hari berhadiah empat buah soal untuk diselesaikan. Ya, hanya empat namun empat soal tersebut mematikan, membuatmu berpikir ulang mengapa engkau berada di situ. Membuat berpikir kenapa harus mengerjakan soal itu. Empat soal tersebut sangat sulit sehingga satu soal terpecahkan adalah suatu prestasi pribadi. Tetapi semua orang berlomba untuk menjadi yang terbaik. Aku pun berusaha menjadi yang terbaik.

Dua hari berlalu pasca tes, satu hari kosong untuk bertamasya, dan hari pengumuman. Sedihnya, diriku tak mendapatkan medali. Kakak kelasku mendapat medali perunggu. Mungkin itu adalah hadiah karena telah bersabar satu tahun tak mendapatkan medali. Diriku kecewa karena tidak berhasil, namun aku masih memiliki satu kesempatan lain tahun depan. Dan saat itu, aku berjanji untuk melakukan semaksimalnya tanpa kecuali agar dapat berkesempatan memperoleh medali tersebut bersama sahabat saya.

Lima hingga enam bulan berlalu setelah OSN di provinsi Jawa Barat, tibalah untuk memulai kembali cerita dari awal : OSK. Tetap di bidang yang sama yaitu matematika bersama sahabat dan rekan lainnya. Cukup kesal namun harus puas mengingat saya juara dua OSK matematika dan sahabat saya juara satu OSK matematika. Rekan saya pun banyak menyaber gelar juara. Satu bulan setelahnya akan diselenggarakan OSP di Lembang lagi, tempat yang sama persis namun berbeda ruangan. Sebelum OSP, sekolah memberikan pembinaan dan aku memanfaatkannya dengan maksimal -tentu saja, ini kesempatan terakhir- agar mendapat hasil terbaik. Setelah OSP, menunggu lagi pengumuman selama kurang lebih satu setengah bulan. Aku berhasil lolos ke tingkat nasional, tapi sahabatku sekali lagi kurang beruntung. Sekarang yang mewakili matematika dari SMA ku hanya tinggal aku dan mungkin aku yang terakhir yang bisa mewakili matematika. Semenjak saat itu aku terus belajar agar mendapatkan medali, sesuatu yang sangat aku inginkan. Motivasi hanya terdapat pada diri sendiri. Ketika sekolah mengadakan pembinaan, sialnya pengajar bidang matematika SELALU tak pernah datang. Bahkan ketika pelatda, aku merasa bahwa materi pelatda tidak berbobot sehingga aku terpaksa belajar benar-benar sendiri mengerjakan soal-soal asing yang bisa dikerjakan. Fokusku pada aljabar karena aku lemah pada aljabar, tak luput juga sebenarnya aib terbesar terletak pada geometri. Kombinatorika beradu keberuntungan pada nalar dan teori bilangan bergantung pada apa yang telah kumiliki sebelumnya.

Satu oktober dua ribu empat belas, hari yang ditunggu telah tiba. Tim Jawa Barat berangkat menuju Nusa Tenggara Barat pada pagi hari. Pagi itu juga telah sampai di Lombok dan check in di penginapan. Di saat itu pula aku kaget karena akan sekamar dengan manusia yang aku kenal di dunia maya. Semenjak itu, aku langsung curhat kepada sahabatku. Tanpa basa basi, hari pertama dilewatkan tanpa ada apapun dan pembukaan OSN dilaksanakan pada hari kedua. Hari ketiga seperti pada tahun sebelumnya : hari tes. Seharusnya tak ada yang berbeda. Namun suasana tes kali ini sangat berbeda : layaknya tes IMO, semua peserta ditempatkan dalam satu aula besar di suatu SMA Negeri di kota Mataram. Benar saja kali ini aku merasa gugup berhadapan langsung dengan semua peserta di bumi nusantara ini. Namun aku tetap berusaha untuk tenang dan tidak gugup. Karena satu-satunya yang harus aku hadapi adalah soal-soal yang menanti.

Hari pertama, empat soal dengan masing-masing topik ada di dalamnya. Entah kenapa diriku benar-benar terselamatkan karena topik geometri yang diuji berupa pengembangan dari bentuk jajaran genjang atau trapesium. Sedangkan yang lain butuh peruntungan lebih. Hari kedua tak jauh berbeda. Tetapi ada yang mengatakan biasanya hari kedua akan lebih sulit. Nyatanya, ya. Ada sebuah soal yang tak bisa dijawab sama sekali. Dan aku sama sekali tak memiliki ide bagaimana menyelesaikannya. Tetapi ya sudahlah, biarkan berlalu.

Setelah tes, diberi waktu bebas dan esoknya akan pergi jalan-jalan menyusuri pulau Lombok nan kecil ini. Betapa menyenangkan dan beruntungnya diriku dapat berjalan-jalan di daerah Lombok ini secara gratis. Memang patut disyukuri. Setelah jalan-jalan, esok siang akan ada pengumuman lomba. Saat itu juga aku benar-benar berharap mendapatkan medali. Karena aku telah memperjuangkan semua yang kupunya. Benar saja, aku mendapat medali perunggu. Betapa senang ketika mendengar pengumuman tersebut dan maju ke depan . Berdiri di depan ratusan siswa SMA tadinya hanya terpikir dalam mimpi saja.

Akhirnya selesai sudah membaca materi programming bodoh ini. Sudah mengingat kembali bagaimana bentuk penulisan dari subprogram yang akan dilakukan pada praktikum esok hari. Semoga tidak ada kasus lagi. Akan pergi tidur.

Anjay
Depan meja televisi, 01.00
17 Oktober 2016